|
Taman Wisata Alam Situ Gunung
Keadaan umum
TWA Situ gunung yang mempunyai luas 100ha adalah merupakan kawasan
pelestarian alam bagian dari zona pemanfaatan intensif Taman
Nasional Gunung Gede Pangrango.
Menurut administrasi pemerintahan termasuk wilayah Desa Kadudampit,
Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi. menurut wilayah
pengelolaan hutan termasuk RPH Cipaku BKPH Gede Barat KPH Sukabumi.
TWA Situgunung terletak dikaki gunung Pangrango pada ketinggian
950-1.36m dari permukaan laut. Keadaan tofografinya sebagian kecil
datar, bergelombang sampai berbukit.
Secara astronomis kawasan TWA Situgunung terletak antar 106
54'37'-106 55'30' Bujur Timur 06 39'40'-06 41'12'.
Menurut Schmidt dan Perguson TWA Situgunung mempunyai tipe iklim B.
Curah hujan rata-rata 1.611-4.311mm/tahun dengan 106-187 hari hujan
pertahun. Suhu udara berkisar antara 16C-28C dan kelembaban
rata-rata 84%.
Potensi Kawasan.
Keunikan ekosistem dan vegetasi pada kawasan TWA Situgunung terletak
dari bentang alam pegunungan, tofografinya bergelombang sampai
berbukit yang tertutup hutan serta adanya telaga (situ). Kawasan ini
berdasarkan perbedaan tumbuhan penyusunanya termasuk zona Sub
Montana, yang ditandai dengan adanya pohon-pohon besar dan tinggi.
Tajuk hutannya sangat rapat karena banyak tertutup epifit dan
tumbuhan memanjat. semak belukarnya rapat serta mempunyai
keanekaragaman jenis yang tinggi.
Pada zaman Sub Montana, tumbuhannya didominasi oleh: Puspa (schima
wallichii) rasamal (altingia excelsa) dan jenis-jenis dari keluarga
Fagaceae. Selain jenis tersebut diatas terdapat juga damar (agathis
sp), saninten (castanopsisargantea) hamirung(vernones arborea) gelam
(Euginia fastigiata) Kisireum (cleistocalyx opertculata), lemo
(litsea cubeba) balektebe (litsea sp), suren (Toona Sureni), riung
anak (castanopsis javanica) walen (Vicu ribes) merang (Hibiscus
surattensis) Kipanggung (travesia sondaica) Kiputat (planchornia
valida) Kareumbi (homolanthus populnea) manggong (macarannga
rizoides).
Di tWA situgunung terdapat berbagai jenis anggrek antara lain jenis
yang dilindungi adalah anggrek tanah bunga merah, anggrek tanah
bunga putih, anggrek bajing bunga kuning. Jenis anggrek ini mudah
dijumpai ditepi jalan setapak yang terletak diperbatasan antara TWA
Situgunung dengan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
Secara keseluruhan kawasan TWA situgunung terdapat 62 jenis satwa
liar (19 jenis dilindungi) yang terdiri atas 41 jenis burung (11
jenis dilindungi) dan 21 jenis mamalia (8 jenis dilindungi)
Jenis mamalia yang dilindungi adalah owa (hylobates moloch)
trenggiling (monis javanico) landak (hystrix brachura) surili
(presbytis comata) kijang (muntiacus muntjak) kancil (tragulus
javanicus) adapun jenis mamalia yang mudah dijumpai adalah bajing
monyet ekor panjang, lutung dan babi hutan. Jenis burung yang ada di
TWA situgunung ada 41 jenis 11 jenis dilindungi yanitu elang bondol
(haliastur Indus) alap-alap (Accipter Virgatus) sasap madu gunung
(Aethopyga eximia) burung kipas (Rhipidura javanica) Cekakak
(Halcyon chloris) burung madu kuning (Nectarina jugularis) burung
madu pipi merah (Anthretes singalensis) burung madu merah (aethopyga
siparaja) burung cabe (dicaeum trocileum) adapun jenis-jenis burung
yang mudah dijumpai adalah kutilang, betet ekor panjang, prenjak,
tuwu, emprit, cipoh,kepodang, tulung tumpuk dan ayam hutan.
Potensi Wisata
Selain memiliki keindahan pemandangan hutan alam dan hutan tanaman,
situgunung memiliki obyek wisata alam yang sangat menarik untuk
dikunjungi yaitu:
1. Telaga Situgunung: sebuah telaga buatan seluas 10ha dengan
panorama yang indah dikelilingi bukit dan tegakan pohon damar.
2. Air terjun : Air terjun Cimanaracun dan curug sawer salah satu
keindahan alam yang menyatu dengan lingkungan sekitarnya.
Sesuai dengan potensi yang dimiliki TWA Situgunung, maka wisatawan
dapat melakukan kegiatan berupa:
1. Wisata alam: berupa rekreasi dialam terbuka sambil menikmati
keidahan, keunikan, kesejukan gejala dan panorama alam lainnya.
Kegiatan lainnya yang dapat dilakukan adalah memancing, mendaki
gunung (hiking), lintas alam, foto hunting, bersampan dan lain-lain.
2. Wisata Konvensi: Lokakarya, workshop, rapt yang dapat dilakukan
dilingkungan alam terbuka sambil berwisata.
3. Wisata pendidikan: rekreasi dialam terbuka sambil belajar tentang
alam dan lingkungan hidup disekitarnya. Sehingga dapat menanamkan
rasa memiliki dan menyayangi alam.
Sejarah Kawasan
TWA Situgunung yang ditetapkan pada tahun 1975, memiliki potensi
sumberdaya alam hayati berupa flora dan fauna serta mempunyai
pemandangan alam yang menarik.
Kawasan ini telah diteliti oleh beberapa peneliti bangsa Belanda
yaitu diantaranya adalah: Reidwart(1819) Junghun(1839-1661) JE.
Teysman (1839) AR Walace (1661) SH Koorders (1890) Treub (1891) Dr.
Van Steenis (1920-1952) yang membuat koleksi tumbuh-tumbuhan sebagai
dasar penyusunan sebuah buku berjudul "Mountain Flora of Java".
Dalam perkembangan selanjutnya sebagai realisasi untuk
mengikutsertakan Perum Perhutani Taman Wisata Tangkuban Perahu
termasuk salah satu dari 18 lokasi Taman Wisata Pulau Jawa yang
pengusahaannya diserahkan kepada perum perhutani. Dan pada tanggal 4
juni 1990 SK Dirjen tersebut dicabut/ diganti dengan SK Mentri
Kehutanan No. 184/kptsII/1990.
Sebagai tindak lanjut dari keputusan tersebut maka disusunlah
Rencana Karya Lima Tahun Tahap II sebagai dasar pelaksanaan selama
lima tahun (1997-2001) yang terarah dan terinci. Sejak tahun 1990
hak pengusahanya telah diserahkan kepada perum perhutani Unit III
Jawa Barat, dan sejak tahun 1997 di KSO-kan dengan PT. Shorea Barito
Wisata.
Legenda Situgunung
Telaga Situgunung dibangun pada tahun 1817 oleh Rangga Jagat
Syahadana yang lebih dikenal dengan nama Embah Jalun (1770-1841)
sebagai perwujudan rasa bahagia dan bangga karena dikaruniai seorang
anak laki-laki yang diharapkan dapat melanjutkan perjuangannya.
Rangga Jagat Syahadana adalah seorang pejuang keturunan keluarga
Raja Mataram yang berhaluan keras dalam menentang penjajah Belanda.
Karena ketidakpuasannya terhadap penjajah Belanda, kemudian beliau
meninggalkan Mataram untuk bergabung dengan para pejuang dari
Banten. Pada tahun 1808 Rangga Jagat Syahadana tiba di Cirebon dan
menikah dengan seorang gadis dari kuningan.
Selama melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda yang dilakukan
dengan berpindah-pindah beliau pernah beberapa kali tertangkap yaitu
tahun 1810 di Sumedang, tahun 1840 diCisaat Sukabumi. Pada pengkapan
terkhir Belanda telah memutuskan hukuman gantung disebuah lapangan
yang sekarang menjadi alun-alun cisaat. Tapi berkat kesaktiannya
beliau dapat melepaskan diri, dan memutuskan untuk pergi ke Banten
dengan meninggalkan anak istrinya. Namun karena perjalan yang sulit
serta usia yang telah lanjut akhirnya beliau jatuh sakit dan
meninggal dunia di Bogor pada tahun 1841.
Telaga situgunung kemudian diambil alih secara paksa oleh Belanda ,
dan dibangun secara paksa oleh Belanda, dan dibangun kembali pada
tahun 1850. Dikawasan tersebut pernah dibangun perhotelan dengan
nama Hotel Situgunung.
Fasilitas
Berbagai sarana untuk memberikan kenyamanan dan kepuasan wisatawan
yang berkunjung di TWA Situgunung diantaranya telah tersedia:
1. Pesanggrahan: tersedi 4 buah pesanggrahan dan sebuah gedung
serbaguna yang dapat menampung 200 orang.
2. Bumi perkemahan: Areal perkemahan seluas 5ha dibawah tegakan
hutan damar memiliki fasilitas berkemah yang cukup lengkap.
3. Pusat informasi dan pelayanan: sarana ini dimaksudkan sebagai
tempat memberikan penerangan dan informasi tentang kawasan serta
peraturan-peraturan lainnya.
4. Jalan setapak: jalan setapak yang dibuat dengan maksud untuk
memperlancar dan sekaligus memberi petunjuk bagi wisatawan tentang
potensi-potensi yang ada dalam kawasan, karena jalan setapak ini
dibuat sebagai penghubung tempat-tempat yang mempunyai potensi dan
atraksi wisata.
5. Kafetaria: menyediakan dan melayani kenutuhan makanan dan minuman
bagi wisatawan.
6. Kios Cenderamata: sarana ini diperuntukan guna memenuhi kebutuhan
wisatawan akan kenang-kenangan atau tanda mata.
7. Shelter/kopel: Bangunan ini dapat dipakai sebagai tempat
bersantai sambil menikmati pemandangan alam.
8. Fasilitas lainnya: tempat parkir, musholla, MCK, dermaga, taman
bermain dan teater alam.
Aksesbilitas
Lokasi TWa Situgunung dapat dicapai dengan mudah. Sarana yang
tersedia untuk menuju lokasi dapat dilakukan dengan angkutan umum
atau ojeg motor yang ada dikecamatan Cisaat. Jarak dari kota
Sukabumi dengan TWA Siugunung 15km dengan waktu tempuh yang
diperlukan sekitar 30menit. |