Curug Dago
Bandung

Siapa sangka, ketika turun dari angkotan kota dan menempuh jalan menurun ke arah bawah PLTA Bengkok, berbelok ke kiri dan menapakkan kaki di atas jalan tanah menyusun sawah dan kebun, Anda akan sampai di “pintu gerbang dunia gaib,” begitulah tempat ini bagi penduduk sekitarnya, dengan segala kemisteriusan dan keanehannya.

Saat berbelok ke kanan dan sampai di sebuah tempat lapang yang mirip lapangan parkir, suara gemuruh air sudah mulai terdengar. Sinar matahari dengan susah payah menembus sela﷓sela daun dan menyinari tanah yang berlumut di bawahnya. Semakin dalam Anda berjalan, suara gemuruh air makin keras.

 

Di tempat yang lapang lain, sebuah jembatan menghubungkan sisi kiri dan kanan jeram berbatu hitam Curug Dago. Dan jembatan itu, Anda bisa melihat air jatuh sejauh 10 meter ke bawah di sebelah kiri, dan ujung sungai yang berhulu di Curug Cimahi di sebelah kanan. Rongga di bawah batu besar tempat air jatuh membuat suara gemuruh air makin terdengar dahsyat.
ltulah Curug Dago, tempat yang tak banyak diketahui orang keberadaannya. Mungkin karena lokasinya yang sulit dicapai dan terpencil, atau juga karena kurangnya pengelolaan dan promosi pemerintah daerah dan setempat, Curug Dago kini bagai “tenggelam” di dalam pesona Dago Tea House yang tak jauh dari sana.

Banyak mitos menyangkut tempat ditemukannya dua batu tulis berhuruf Thailand kuno 1818 itu. Sampai kini, penelitian mengenai prasasti Dago itu masih berlangsung. Menurut para peneliti, termasuk seorang pendeta asal Thailand yang secara berkala meninjau tempat itu, kedua batu itu hanya tanda, yang mengatakan, Raja Rama V dan VII pernah datang ke tempat itu dan bertapa. Satu batu, yang tulisannya lebih panjang, ditulis Raja Rama V, sedangkan yang lainnya oleh Raja Rama VII. Ajaibnya, kedua tulisan itu ditulis tanpa alat, dengan kata lain, ditulis dengan jari jemari kedua raja Thailand itu.

Mitos lain di tempat berudara dingin itu, adalah keberadaan seekor monyet putih yang dipercaya sebagai jelmaan Bapak Haji Abdullah yang bertapa di sana Maulud 1914 dan “tilem” (Sunda: tenggelam). Penduduk sekitar seringkali melihat monyet putih itu dan mengatakan, "Oh, eta mah Bapa Haji nuju ngontrol (Oh, itu Bapak Haji sedang meninjau)." Konon, jenazah Bapak Haji Abdullah tak pernah ditemukan, karena ia menjelma menjadi sang monyet putih.

Banyak pantangan di tempat ini, salah satunya adalah agar tidak berkata sembarangan. Konon, banyak mereka yang tidak percaya dan menjadi sakit sepulangnya dari tempat itu, karena berkasa kasar, atau “mengganggu” makhluk dunia lain yang kebetulan sedang jalan﷓jalan pada waktu yang bersamaan dengan si pengunjung.

Close
©2005 Copyright OkeAja.Com. All Rights Reserved.