|
Keadaan umum
WW Blanakan dengan luas 131.7ha termasuk wilayah pengelolaan hutan
RPH Tangkil, BKPH Ciasem-Pamanukan, KPH Purwakarta. Berdasar
administrasi pemerintahan termasuk Desa Blanakan, Kecamatan Blanakan,
Kabupaten Subang, dan merupakan wisata Harian.
Wana Wisata ini terletak pada ketinggian 0-1m dpl, konfigurasi
lapangan umumnya datar, kawasan ini mempunyai curah hujan 1210mm/tahun,
dengan suhu udara rata-rata 28C.
Potensi Kawasan
Tumbuhan yang terdapat diwana wisata Blanakan berupa: rumput teki,
rumput gajah, hamtuang, pasiran, bakau api, kaneka.
Satwa yang terdapat diwana wisata Blanakan berupa:ular sawah, burung
kuntul, babi hutan, kucing hutan, penangkaran buaya. Sumber air yang
digunakan umumnya pompa.
Potensi Wisata
Pemandangan alam dengan hutan pantai, dan kegiatan wisata harian
yang dapat dilakukan berupa memancing, berkemah dan bersampan.
Penangkaran buaya yang telah dikembangkan sejak tahun 1989 termasuk
salah satu kawasan wisata yang banyak mendapat perhatian dari
wisatawan . Hingga saat ini terdapat 236 buaya muara yang dulunya
dikirim dari Kalimantan.
Pada bulan-bulan tertentu (Oktober-November) setiap tahunnya selalu
diadakan upacara tradisional para nelayan yang dikenal dengan pesta
laut, yaitu upacara sakral dengan membuang kepala kerbau ketengah
laut.
Blanakan diambil dari historis keluarga Buyut Perahu yaitu asal kata
Belah Sanak (Bahasa Indramayu) yang berarti
-belah berarti pecah/pisah
-sanak berarti dulur/saudara atau keluarga
Indramayu adalah salah satu nama tempat yang sekarang menjadi
Kabupaten yang tidak jauh letaknya dengan Kecamatan Blanakan
termasuk Pantai Jawa Bagian Utara, asal Buyut Perahu tinggal dahulu
dan Kibuyut Perahu berlayar bersama istrinya dan adiknya untuk
mencari nafkah dalam perjalanannya mereka singgah disalah satu
tempat yaitu (Blanakan sekarang). Ketiga orang tersebut hidup
mencari makanan diBlanakan. Pada suatu hari Kibuyut Perahu bermaksud
mencari mencek (kijang). Pagi hari sekali Kibuyut berangkat berpesan
pada istri dan adiknya agar tidak ikut berburu. Setelah seharian
mencari kijang kemudian Kibuyut pulang dengan membawa hasil,
sesampainya dirumah Kibuyut langsung membuka rumahnya, ternyata
Kibuyut mendapati istri dan adiknya. Tak lama kemudian Kibuyut
menikah lagi dengan seorang istri asal Blanakan(sekarang). Kibuyut
Perahu berterus terang kepada istrinya yang baru tentang aib yang
menimpanya, dan berkata"Saya lebih baik belah sanak dari pada hidup
malu". Sehingga dari kata-kata itu mereka mneyebutnya kampung belah
sanak oleh anak Kibuyut Perahu kampung tersebut diubah menjadi
Blanakan.
Fasilitas
Fasilitas yang sudah tersedia di Wana wisata Blanakan ini adalah
loket penjualan karcis, pos jaga, pondok kerja, tempat parkir, jalan
setapak, air bersih, shelter, mushola, tempat duduk, menara
pengintai/tribun, ayunan, tempat sampah.
Aksesbilitas
Wana wisata ini dapat dicapai dengan kendaraan roda empat dari
Pamanukan 25km, 62km dari Subang. kondisi jalan beraspal. Kendaraan
umum yang dapat digunakan yaitu bis dan ojeg. |