|
Wana Wisata Batu Kuda
Keadaan Umum
Luas 20ha, KPLH Bandung Utara, BKPH Manglayang Barat, RPH Ujung
Berung, Kabupaten Bandung, Kecamatan Ujung Berung, Desa Cibiru Wetan.
Wana wisata ini terletak pada ketinggian antara 1.150-1.300m dpl,
konfigurasi lapangan umumnya bergelombang, kawasan ini mempunyai
curah hujan 2.000mm/th dengan suhu udara antara 19-27C.
Potensi kawasan
Wana wisata ini terdiri dari hutan tanaman campuan (pinus, kaliandra
dan cemara). Sumber air yang ada berupa mata air yang saat ini
dimanfaatkan untuk keperluan pengunjung dan masyarakat sekitar
kawasan. Potensi visual lanserkap didalam kawasan yang cukup menarik
adalah hutan tanaman campuran dan hutan alam, batu kuda (batu yang
mirip kuda), hutan pegunungan dan udara pegunungan yang sejuk.
Potensi Wisata
Wana wisata ini digunakan untuk harian dengan kegiatan yang dapat
dilakukan antara lain adalah mendaki gunung, piknik dan lintas alam.
Sebagai obyek wisata Batu kuda sudah lama dikenal orang. Paling
tidak oleh penduduk Bandung Timur yang sebelumnya mengenal Batu
kuada sebagai tempat untuk mencari kayu bakar. Konon akibat
penebangan liar hutan disekitar Batu kuda yang dulu lebar kini
tinggal kenangan. Bahkan penebangan hutan yang serampangan itu,
wilayah Ujung Berung kini masih sering terendam air akibat banjir
bendang dari kaki gunung Manglayang.
Untunglah pihak perhutani segera mengelola hutan-hutan disitu. Untuk
tindakan pengaman, sejumlah polisi hutan dilibatkannya. Jadilah
akhirnya batu kuda sebagai obyek wisata yang untuk umum baru dibuka
sekitar tahun 1987.
Menurut penduduk setempat, gunung Manglayang pada zaman dahulu
merupakan tempat bertapanya Eyang Layang Kusumah (istrinya).
Manglayang merupakan tempat persinggahan kedua Eyang itu yang tidak
diketahui asal dan tujuannya. Mereka selalu beristirahat dan bertapa
serta memandikan kuda yang dapat terbang dan sakti, penduduk
menyebutnya Kuda Semprani-digedogan (tempat pemandian kuda).
Manglayang menyimpan banyak hal historis tentang batu-batuan besar
diantaranya yang menurut penduduk setempat didiami para karuhun (leluhur).
Dibatu-batuan inilah, berbagai sesaji disimpan untuk persembahan:
Sebagai rasa hormat kepada karuhun mereka. Batu-batuan itu
diantaranya bernama batu kuda yang mempunyai bentuk seekor kuda yang
sedang duduk.
Penduduk memitoskan dan mengutuskan Batu kuda sebagai jelmaan kuda
semprani yang digunakan Eyang Layang Kusumah dan istrinya. Pada
tahun 50an sebelum terjadi longsor kedua. Gunung Manglayang sangat
angker. Penduduk tidak berani mendekati apalagi memegang tempat yang
memiliki nilai historis, diantaranya batu kuda.
Suatu hari ada seseorang yang tidak menghargai adat istiadat
setempat. Dia malah manaiki dan tidur diatas Batu Kuda. Ketika
pulang orang tersebut mengalami penyakit yang sukar disembuhkan.
Penyakit tersebut hanya dapat disembuhkan jika dia kembali ke Gunung
Manglayang dan meminta maaf, melalu kuncen (perantara).
Nilai hisoris lainnya juga terlihat pada longsor kedua tahun 1976.
Suatu hal yang sulit terbaca logika. Batu kuda yang mempunyai volume
500 meter kubik dapat menahan longsor yang tekanan dan jumlah
tanahnya lebih besar sehingga daerah Cikoneng yang berada dibawah
batu tersebut tidak terkena longsor.
Batu-batuan diantaranya bernama Batu Tumpeng, Batu Leuit, Batu Semar,
Batu Keraton, Batu Ampar, Batu Korsi dan Batu Lamunan, Batu pasir
Jirak, Pasir Kitumbak, curug kecapi, curug Cilengkrang dan curug
pamujaan. Dibatu-batuan dan tempat itulah acapkali digunakan sebagai
tempat pemujaan dan sesaji.
Fasilitas
Fasilitas wisata yang disediakan guna memberi kenyamanan dan
kepuasan bagi pengunjung antara lain adalah papan petunjuk, loket
karcis, jalan setapak, MCK, instalasi air, bangku, shelter dan
pemnadu wisata keramat (juru kunci)
Aksesbilitas
Wana wisata ini dapat dicapai dari Kecamatan Ujung Berung (9km)
Cicadas (13km) Cicalengka (13km) dan dari Kabupaten/Kodya Bandung
(20km) Garut (50km). Kondisi jalan umumnya beraspal dan baik
sehingga dapat dilalui oleh kendaraan roda dua maupun empat. Sarana
transportasi umum yang ada berupa motor ojek dan colt carteran. |